Bilik yang Sederhana, Hidup yang Sederhana
Tetapi, Peralatan Tempurnya Gahar!

Banyak yang terharu dengan sederhananya rumah, lebih tepat bilik yang menempel ke masjid, Nabi kita baginda Muhammad ShalalLaahu ‘alayhi wa Sallam.

Namun perlu diketahui, di balik kesederhanaan hidup baginda, untuk urusan alat tempur baginda tidak main-main.

Menurut kitab
جامع السيرة

Karya al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, pada halaman 342 hingga 344 cetakan Darul Wafa’, Manshurah, Mesir, tahun 2005 terdapat Bab Persenjataan dan Perabotan milik Nabi Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam:

➡ Sembilan bilah pedang (أسياف) bernama:

1⃣ Ma’tsur (مأثور) adalah pedang pertama, warisan dari ayahnya, dipakai pada Perang Badr, pernah diperlihatkan kepada Nabi dalam mimpi, dan Nabi membawa pedang ini saat Fathu Makkah,
2⃣ al-‘ Adhb (العضب)
3⃣ Dzul Faqar (ذو الفقار) hampir tidak pernah terpisah dari sisi Nabi,
4⃣ al-Qala’a (القلعى)
5⃣ al-Battar (البتار)
6⃣ al-Hatf (الحتف)
7⃣ ar-Rasub (الرسوب)
8⃣ al-Mikhdzam (المخذم)
9⃣ al-Qadhib (القضيب)

➡ Tujuh set baju beşi (أدرع) bernama:

1⃣ Dzatul Fudhul (ذات الفضول) pernah digadaikan kepada seorang Yahudi bernama Abu asy-Syahm untuk membeli gandum sebanyak 30 sha’ bagi keluarganya, dicicil pelunasannya dalam 1 tahun,
2⃣ Dzatul Wisyah (ذات الوشاح)
3⃣ Dzatul Hawasya (ذات الحواشى)
4⃣ As-Sa’diyah (السعدية)
5⃣ Fidhah (فضة)
6⃣ al-Batra (البتراء)
7⃣ al-Khirniq (الخرنق)

➡ Enam busur (قسى) bernama:

1⃣ az-Zawra’ (الزوراء)
2⃣ ar-Rawha’ (الروحاء)
3⃣ ash-Shafra’ (الصفراء)
4⃣ al-Baydha’ (البيضاء)
5⃣ al-Katum (الكتوم) yang pernah pecah pada Perang Uhud lalu dipungut oleh Qatadah ibnin-Nu’man RadhiyalLaahu’anhu
6⃣ as-Sadad (السداد)

➡ Perlengkapan melekat badan baginda:

1⃣ Satu quiver (penampung anak panah; جعبة) bernama al-Kafur (الكافور),
1⃣ Satu ikat pinggang (منطقة) perang dari kulit dengan tiga lobang (untuk mencantelkan berbagai peralatan) yang terbuat dari perak,
1⃣ Satu kepala ikat pinggang (الإبزيم) dan ujung ikat pinggang (الطرف) yang terbuat dari perak (agar kuat),

➡ Dua buah tameng (ترس) bernama:

1⃣ az-Zalluq (الزلوق)
2⃣ al-Futaq (الفتق)

➡ Lima buah lembing (أرماح) bernama:

1⃣ al-Mutswi (المثوى)
2⃣ al-Mutsna (المثنى)
3⃣ an-Nab’ah (النبعة) kategori tombak (حربة)
4⃣ al-Baydha’ (البيضاء) yang lebih besar
5⃣ al-Anazah (العنزة) yang lebih kecil dan berfungsi juga sebagai tongkat Nabi khusus untuk hari raya (ied) dan juga dipakai sebagai tanda (سترة) depan ketika shalat, pernah juga dipakai sebagai tongkat penuntun jalan,

➡ Tiga jubah khusus untuk perang (جباب يلبسها في الحرب) tanpa nama,

➡ Satu bendera perang berwarna hitam (راية سوداؤ) yang disebut al-Uqab (العقاب),

➡ Satu set tenda (فسطاط) yang bernama al-Kinn (الكن), satu tongkat komando (محجن) sepanjang satu hasta biasa dipakai ketika berjalan mengendarai unta (kadang digantungkan pada untanya), tongkat komando lainnya (مخصرة) bernama al-Urjun (العرجون), dan satu tongkat (قضيب) kenabian dari kayu Syauth yang disebut al-Mamsyuq (الممشوق) yang dipakai juga oleh para khalifah sesudahnya,

Pantas saja dalam kitab Sirah Nabawiyah li-Ibni Hisyam (jilid IV Raudhul Unuf, halaman 165) terdapat riwayat bahwa Bunda Aisyah RadhiyalLaahu’anha sebelum keberangkatan pasukan dalam Fathu Makkah pernah:

و هي تحرك بعض جهاز رسول الله صلى الله عليه وسلم

Beliau (Aisyah RadhiyalLaahu’anha) sedang sibuk menyiapkan peralatan dan perbekalan (perang) Rasulullah ShalalLaahu ‘alayhi wa Sallam.

➡ Bagaimana tidak sibuk kalau peralatan sebanyak ini seleksinya. Saya hormat kepada Bunda Aisyah RadhiyalLaahu’anha ?

⚠ Dan masih banyak lagi, nanti saya teruskan insyaaAllah. Memang sebagian alat tersebut dihibahkan kepada menantunya Ali bin Abi Thalib RidwanulLaah ‘Alayhi.

⚠⚠ Lalu kita hanya untuk sekedar naik gunung saja tidak punya ransel; lalu pinjam sana sini padahal smartphone-nya paling bagus. Bajunya berteret sekian setel untuk segala macam musim, tapi sepatu gunung, sepatu taktikal, apalagi sepatu lars tak punya! Gelas dan piring bisa berbagai jenis dan set dari sekian kali traveling, tapi pisau komando untuk pertahanan sebilah pun nihil. Skala prioritas sebagian besar kita memang jauh dari sunnah Nabi kita.

Agung Waspodo, masih harus banyak membaca kitab lainnya untuk mendapatkan keterangan yang lebih lengkap tentang armouries (seleksi persenjataan) milik Baginda Rasulullah ShalalLaahu ‘alayhi wa Sallam itu.

Depok, 2/3 Shafar 1441 Hijriyah